Romantic

Title: Romantic

Author: dwiananing

Length: Oneshot

Main Cast: Suzy Miss A & Minho SHINee

Minor Cast: Wooyoung 2PM, Dara 2NE1, Taemin SHINee, Minwoo & Jeongmin Boyfriend, Taecyeon 2PM, Yoseob B2ST, FT Island

Genre: Romance, Friendship

A/N: Ini FF spesial buat saeng @putri127 :*

Rating: PG

Suzy’s POV

Tiba-tiba seorang namja menabrakku dari arah belakang, “Maaf,” ucapnya sambil membungkuk.
“Ah ne, tidak apa-apa,” jawabku pelan. Yah setidaknya untung saja aku tidak sampai terjatuh.
“Kau tidak apa-apa?” tanya namja itu memastikan.
“Ne, aku tidak apa-apa kok.”
“Sekali lagi maafkan aku ya. Aku benar-benar tidak sengaja.”
“Iya tidak apa-apa kok,” jawabku kembali. Namja itu kemudian pamit padaku dan berlari dengan cepat.

***

Hari ini aku mengambil les tambahan jadi aku harus pulang lebih lama. Hmm ini yang tidak aku suka kalau aku datang lebih pagi. Sekolah masih sepi, seperti tidak ada kehidupan. Namun tiba-tiba seorang namja memanggilku.
“Suzy, apa kau bisa membantuku sebentar?” tanya Wooyoung oppa, kakak kelasku.
“Yah oppa, kau mengagetkanku. Iya bisa. Apa yang bisa aku bantu oppa?”
“Aku ingin kau membantuku untuk mengirimkan brosur mengenai ulang tahun sekolah kita ke sekolah lain. Tenang saja aku juga ikut jadi kau tidak sendirian.”
“Oke oppa, jam berapa kita bisa pergi?”
“Setelah pulang sekolah nanti. Apa kau bisa?”
“Ne, aku bisa oppa.”
“Oke, jangan lupa ya Suzy. Aku akan menunggumu di kantin. Gomawo,” Aku pun langsung berlari menuju kelas. Bel sebentar lagi akan segera berbunyi.

***

Sekolah hari ini selesai dan untung saja tidak ada tugas. Lega sekali rasanya. Wooyoung oppa ternyata juga sudah selesai sekolah dan menungguku di kantin.
“Suzy, ayo kita berangkat.”
“Ne oppa.”
Aku dan Wooyoung oppa pun berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sekolah.

***

Aku dan Wooyoung oppa mengunjungi Seoul Art and Music School. Seoul Art and Music School letaknya paling dekat dengan sekolahku, Seoul High School.
“Oppa, semua melihatmu,” seruku sambil tertawa.
“Haha kau bisa saja. Sudah kita harus cepat-cepat memberikan brosur ini. Kau tahu kan sekolah di sekitar sini sangat banyak?”
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ruang OSIS sekolah Seoul Art and Music School, “Annyeonghaseyo. Kami dari dari Seoul High School ingin memberikan brosur mengenai ulang tahun sekolah kami. Kami akan mengadakan lomba antar sekolah. Aku harap kalian bisa bergabung,” Wooyoung oppa menjelaskan secara detail dan aku hanya diam di belakangnya.
“Annyeonghaseyo. Gomawo ajakannya. Nanti aku akan menghubungi teman-teman yang lain,” ujar namja yang ternyata ketua OSIS itu. Namja itu sangat perfect menurutku. Namja itu secara fisik benar-benar memenuhi kriteria namja idamanku. “Ngomong-ngomong aku belum mengetahui namamu,” kata namja itu.
“Oh ya maaf aku belum mengenalkan diri. Jang Wooyoung imnida, aku ketua OSIS di Seoul High School,” Wooyoung oppa mengenalkan dirinya.
“Choi Minho imnida, ketua OSIS di sekolah ini. Oh ya, yeoja di belakangmu siapa?” tanya Minho penasaran. Ya ternyata Minho seumuran dengan Wooyoung oppa.
“Annyeonghaseyo, Bae Sueji imnida. Kau bisa memanggilku Suzy,” kataku lalu tersenyum manis ke arah Minho
“Ne. Salam kenal Wooyoung dan Suzy. Senang berkenalan dengan kalian,” katanya sambil tersenyum ke arahku. Ah senyum itu manis sekali.
“Kami juga. Oke maaf sepertinya aku harus mengunjungi sekolah lain. Kami permisi dulu. Gomawo sudah menerima kedatangan kami dengan senang hati,” Wooyoung oppa lalu menjabat tangan Minho.
“Iya sama-sama,” ucap Minho lalu dia tersenyum lagi. Omona, senyum itu senyum dewa. Dia benar-benar ganteng.
Akhirnya aku dan Wooyoung oppa pun pulang. Namun sebelum itu aku membalikkan badanku untuk melihat Minho lagi. Dan yang tak kusangka, Minho juga melihatku. Dia tersenyum padaku dan aku pun membalas senyum itu dengan hati senang.

***

“Oppa, aku lapar,” kataku dengan tampang yang sangat menderita.
“Kau mau makan dimana?”
“Aku mau mi ramen. Bagaimana oppa?”
“Oke. Aku tau tempat mi ramen yang enak. Kau pasti akan suka.”
“Asik. Gomawo Wooyoung oppa.”

***

“Wah, mi ramen ini benar-benar enak oppa. Apa aku boleh tambah seporsi?”
“Jinjja? Kau kuat sekali makan Suzy-ah.”
“Habis enak sih. Boleh kan oppa?”
“Iya, tapi kau harus tetap membantuku ya, masih banyak yang belum aku kunjungi.”
“Oke boss,” seruku dengan telapak tangan yang kuletakkan di pinggir kepala sebelah kanan. Sebagai rasa hormat. Tiba-tiba handphone Wooyoung oppa berbunyi.
“Annyeong Dara, ada apa?” tanya Wooyoung oppa lembut.
Dara onnie itu yeojachingunya Wooyoung oppa. Dara onnie seumuran dengan Wooyoung oppa. Menurutku mereka sangat cocok.
“Aku sedang makan mi ramen di tempat biasa dengan Suzy. Apa kau mau kesini? Ne. Hati-hati di jalan ya,” Wooyoung oppa mengakhiri teleponnya.
“Oppa, aku iri denganmu dan Dara onnie,” ujarku.
“Waeyo?”
” Oppa itu perfect. Dan Dara onnie, dia juga perfect. Sama seperti oppa. Aku ingin jika suatu hari aku punya pacar, aku ingin kisahnya seperti oppa dan Dara onnie. So sweet,” kataku sambil tersenyum malu-malu.
“Gomawo Suzy. Doakan aku langgeng dengannya ya. Aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan yang terbaik.”
“Gomawo oppa.”
“Iya, kau harus semangat. Fighting.”
“Ne. Fighting Wooyoung oppa. Fighting Dara onnie,” ucapku bersemangat.
“Yah kalian. Ada apa ini? Kenapa kau menyebutkan namaku Suzy?” tiba-tiba Dara onnie sudah muncul di sampingku dan juga Wooyoung oppa.
“Ah tidak ada apa-apa kok onnie,” ucapku berbohong.
“Apa kau yakin? Aku tau kau pasti berbohong. Iya kan?” Dara onnie menggelitik pinggangku.
“Onnie hentikan. Yah, onnie hentikan.”
Saking gelinya, aku tertawa sampai mengeluarkan air mata. Aku dan Dara onnie memang sangat dekat. Akulah mak comblang antara Wooyoung oppa dan Dara onnie.
“Haha iya-iya. Maafkan aku Suzy. Oh ya, sedang apa kalian disini? Apa kalian selingkuh di belakangku?”
“Yah onnie, kau lucu sekali sih. Selalu saja seperti itu jika melihatku dan Wooyoung oppa berduaan. Aku membantu Wooyoung oppa untuk memberikan brosur ulang tahun sekolahku ke sekolah lain.”
“Oh tentang lomba itu?” tanya Dara onnie.
“Ne. Oh ya onnie, kenapa kau selalu terlihat cantik sih? Tidak sepertiku,” kataku memanyunkan bibirku.
“Kau itu cantik sekali Suzy. Bahkan aku rasa kau lebih cantik dariku. Kenapa kau rendah diri sekali? Tidak baik itu,” kata Dara onnie yang berhasil membuat pipiku memerah.
“Jinjja? Gomawo onnie.”
“Kau lucu sekali Suzy. Aku senang sekali bisa mengenalmu dan mempunyai dongsaeng sepertimu,” Dara onnie lalu memelukku.
“Kalain berdua, kenapa asik sekali mengobrolnya? Apa kalian tidak menganggapku ada?” tiba-tiba Wooyoung oppa berbicara.
“Omo, maafkan aku sayang,” Dara onnie pun berpindah tempat ke samping Wooyoung oppa.
“Kau biasa begitu.”
“Yah baru gitu aja udah ngambek. Liat Suzy, tingkah laku Wooyoung seperti anak kecil. Apa kau bisa membelikan balon untuknya?”
“Onnie, onnie. Kau berbakat jadi pelawak. Sudah daftar saja, kan sekarang lagi banyak audisi pelawak,” ucap Suzy sambil tertawa terbahak-bahak.
“Aku sudah daftar. Tenang saja,” kata Dara onnie sambil tertawa. “Oh ya Wooyoung, mana brosur untuk sekolahku? Biar aku yang memberikannya pada ketua OSIS-ku.”
Yah, Dara onnie memang beda sekolah denganku dan juga Wooyoung oppa.
“Ini. Tolong usahakan agar sekolahmu mau ikut lomba pada acara ulang tahun sekolahku ya. Daftar lombanya ada di brosur ini kok,” Wooyoung oppa lalu memberikan brosur itu pada Dara onnie.
“Ne. Tenang saja sayang.”
“Gomawo Dara, saranghae.”
“Nado Saranghae Wooyoung. Oh ya kalian sudah selesai makan kan? Ayo kita lanjutkan perjalanan. Masih banyak sekolah lain yang belum kalian kunjungi kan?” tanya Dara onnie.
“Iya. Ayo kita berangkat. Wooyoung oppa yang bayar semua ini kan?” tanyaku sambil tersenyum manja pada Wooyoung oppa.
“Tenang saja.”
“Gomawo oppa.”
“Ne.”
Setelah membayar mi ramen, aku, Wooyoung oppa dan Dara onnie melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah-sekolah lainnya. Ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan.

***

Kegiatan lomba dalam rangka ulang tahun sekolahku hari ini dimulai. Untungnya semua sekolah mau mengikuti lomba ini. Aku dan teman-teman yang lain sangat gembira menyambut hari ulang tahun sekolahku yang tiap tahunnya selalu seru dan menyenangkan. Lomba pertama yan diadakan yaitu lomba menyanyi. Peserta pertama yaitu Minho oppa. Yah saat di backstage dia memintaku untuk memanggilnya “oppa”. Dan apa kalian tahu? Ternyata namja yang pernah menabrakku dulu itu adalah Minho oppa. Dunia memang sempit sekali bukan?
“Annyeong haseyo, Choi Minho imnida. Aku akan membawakan lagu milik SHINee yang berjudul Romantic.”
Alunan musik pun mulai terdengar. Lagu itu benar-benar romantis. Minho oppa bernyanyi sambil bermain gitar.
“No animyon, andwaeneun gol, ijeya araborin naega nomu bimchamhae, sajik sogen ajikdo naega noye, sarangi got gateunde. Noye cheon noye olgul, ajikdo nae pum ane, neukyojigo ineun gol, still I have romantic in my heart, doragago sipeungol.”
Saat Minho oppa menyanyikan lagu Romantic di bagian reffnya, aku mendadak meneteskan air mata. Lagu ini benar-benar menyentuh. Kenangan masa laluku pun teringat kembali.

***

Flashback

“Aku janji aku akan selalu bersamamu Suzy-ah,” ucap Taemin oppa dengan senyum yang sangat tulus.
“Ne. Aku juga janji akan selalu bersamamu oppa. Ayo kita janji kelingking oppa?”
“Janji kelingking? Kau ini Suzy, baiklah,” kata Taemin oppa lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku. Aku yakin kalau aku akan selalu bersamanya. Selamanya.
“Sekarang tutup matamu Suzy-ah.”
“Hmm oke oppa,” akupun menutup mataku dengan hati yang deg-degan. Apa yang akan dia lakukan?
“Sekarang buka matamu pelan-pelan,” kata Taemin oppa lalu aku melihat kalung cantik yang sudah terpasang di leherku.
“Omona. Kalung ini cantik sekali oppa. Gomawo,” kataku lalu memeluknya erat.
“Iya sama-sama. Aku senang kau menyukainya. Oh ya aku juga ada ini,” kata Taemin oppa lalu memperlihatkan seikat bunga mawar putih dari balik tubuhnya.
“Oppa, Gomawo,” seruku senang dan memeluk Taemin oppa lagi. Aku benar-benar beruntung bisa memilikinya.
“Ne. Ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan rasa cintaku padamu, Suzy-ah.”
“Yah oppa gombal,” kataku mengejeknya.
“Gombal? Kau tahu kan kalau aku bukan tipe namja yang suka gombal Suzy-ah,” kata Taemin oppa menyentil dahiku.
“Aw, sakit oppa,” kataku sambil mengusap-usap dahiku. “Aku kan tadi Cuma bercanda. Aku tahu kok kalau kau benar-benar mencintaiku. Oh ya oppa, aku tidak akan pernah melupakan hari spesial ini.”
“Aku juga. Oh ya ada lagi, tunggu sebentar ya,” Taemin oppa lalu mengambil sebuah gitar dari dalam mobilnya.
“Aku ingin menyanyikan sebuah lagu spesial untukmu. Aku tau kau sangat menyukai lagu ini.”
Alunan gitar pun mulai terdengar dan aku bisa menebak lagu ini. Lagu milik SHINee yang berjudul Romantic.
“No animyon, andwaeneun gol, ijeya araborin naega nomu bimchamhae, sajik sogen ajikdo naega noye, sarangi got gateunde. Noye cheon noye olgul, ajikdo nae pum ane, neukyojigo ineun gol, still I have romantic in my heart, doragago sipeungol.”
“Ayo kau juga menyanyi Suzy-ah.”
“Ne oppa.”
Akupun bernyanyi dengan Taemin oppa sampai larut malam. Tiba-tiba Taemin oppa menghentikan petikan gitarnya.
“Suzy?”
“Ada apa oppa?”
“Saranghaeyo Bae Sueji. Yeongwonhi.”
“Nado sarangaheyo Taemin oppa. Yeongwonhi”
Taemin oppa lalu mencium keningku lembut. Hari ini tepat tanggal 14 Februari. Hari valentine sekaligus hari jadianku dengan Taemin oppa yang sudah berjalan selama 1 tahun. Di bukit bintang ini Taemin oppa ‘menembakku’. Di bukit bintang ini pula aku dan dia akhirnya terikat dalam hubungan yang lebih serius, bukan hanya sekadar teman. Saranghaeyo Taemin oppa. Aku akan selalu mencintaimu. Aku tidak akan pernah mau kehilangan oppa.

***

Kring..kring… Telepon rumahku berbunyi. Siapa yang menelepon pagi-pagi seperti ini. Ini baru jam 04.00 pagi, keluhku dalam hati.
“Yobosaeyo,” sapaku pelan karena tentu saja aku masih sangat mengantuk.
“Apa ini Suzy noona?”
“Ne. Ini siapa ya?” tanyaku bingung. Aku merasa tidak asing dengan suara namja ini.
“Minwoo imnida, Suzy noona.”
“Minwoo dongsaengnya Taemin oppa?” tanyaku memastikan.
“Ne noona. Taemin hyung mengalami kecelakaan mobil parah noona. Dia sudah dibawa ke rumah sakit sekarang tapi keadaannya kritis noona. Kau bisa kan sekarang pergi ke rumah sakit Seoul Hospital?”
Deg… Dadaku berdegup kencang. Ini pasti mimpi. Yah, ini pasti benar-benar mimpi.
“Suzy noona? Apa kau mendengarku? Noona?”
“………………………………..”

***

“Maaf, jiwanya tidak bisa tertolong lagi,” ucap Dokter yang bertugas mengoperasi Taemin oppa.
Taemin oppa mengalami kecelakaan hebat saat dia berada di jalan tol. Menurut saksi mata, dari arah belakang muncul truk besar yang melaju sangat kencang dan dia tidak menyadari kalau di depannya ada mobil. Masih banyak lagi ceritanya tapi aku tidak mau mendengarnya lagi. Itu sudah cukup. Terlalu cepat Taemin oppa meninggalkanku, meninggalkan semua kenangan yang pernah aku dan Taemin oppa alami bersama. Apalagi kejadian kemarin malam masih sangat nyata terasa bagiku. Sekarang, namja yang kucinta telah pergi untuk selama-selamanya.
Badanku lemas. Aku sudah tidak ada tenaga lagi. Aku pun hanya bisa berjalan lemah dan sesekali terjatuh. Aku masih merasa ini semua hanya mimpi. Aku mencintai Taemin oppa melebihi apapun di dunia ini. Aku sangat mencintainya. Aku tidak pernah ingin kehilangan dia.
“Suzy noona, aku harap noona bisa bersabar ya. Taemin hyung selalu menceritakan nooa tiap malam. Aku tahu betul kalau Taemin hyung sangat mencintaimu noona,” kata Minwoo lalu menghapus air mataku. “Noona harus kuat tanpa Taemin hyung. Kalau noona terus-terusan bersedih, Taemin hyung juga pasti akan merasa sedih disana. Jadi aku mohon noona bisa menerima semuanya dengan lapang dada dan menjalani hidup noona seperti biasa dan bisa merasa bahagia walau tanpa Taemin hyung. Tenang saja aku juga akan menjaga noona seperti Taemin hyung menjaga noona selama ini.”
Entah mengapa saat mendengar kata-kata Minwoo tadi dadaku makin sesak. Aku makin merasa sakit. Namun aku sadar, aku memang harus bisa menerima kenyataan dan menjadikannya sebagai satu pengalaman hidup yang akan membuatku lebih tegar menghadapi hidup ke depannya. Aku harus bisa menjalani kehidupan baruku tanpa Taemin oppa yang biasanya selalu ada disisiku. Menemaniku dan menyemangatiku tiap waktu.
“Taemin oppa, semoga kau mendapatkan tempat terbaik disana. Saranghaeyo Taemin oppa. Yeongweonhi,” kataku lirih.
Air mataku pun tak henti-hentinya mengalir. Dan aku makin histeris saat Taemin oppa dimakamkan.
“Saranghaeyo Taemin oppa. Yeongwonhi. Yeongwonhi. Yeongwonhi. Yeong..wonhi..”

Flashback end

***

Aku menangis sejadi-sejadinya. Aku meninggalkan segala hingar bingar di lomba itu. Aku menuju taman yang tidak jauh dari tempat lomba diadakan.
“Kenapa harus lagu itu. Kenapa?” tanyaku lirih. Tiba-tiba di depanku sudah muncul Minho oppa sambil menawarkan sapu tangannya.
“Kau kenapa?” tanya Minho oppa.
“Tidak apa-apa. Aku hanya kelilipan. Gomawo sapu tangannya oppa,” aku pun mengelap mataku dengan sapu tangan itu.
“Aku yakin kau bohong. Matamu saja sampai bengkak begitu Suzy-ah.”
Yah, aku rasa aku sudah tidak bisa berkelit lagi di depan Minho oppa.
“Lagu yang tadi oppa bawakan mengingatkanku pada masa laluku yang bagiku sangat menyakitkan.”
“Tentang apa? Siapa?” tanya Minho oppa ingin tahu.
“Masa laluku dengan namjachinguku yang sekarang sudah pergi meninggalkanku.”
“Maafkan aku Suzy. Aku tidak tahu kalau seperti itu ceritanya. Apa dia selingkuh?”
“Tidak oppa, dia sudah meninggal karena kecelakaan. Ya tidak apa-apa oppa, Jangan merasa bersalah begitu, ini hanya sebuah kebetulan,” kataku tersenyum getir.
“Oke. Sekarang apa kau masih ingin menangis? Apa aku bisa menghiburmu?”
“Tidak usah oppa, aku sudah merasa baikan kok.”
“Ya sudah, bagaimana kalau kita kembali ke depan panggung? Sebentar lagi pengumuman pemenang akan diumumkan.”
“Ne. Kau pasti menang oppa.”
“Aku tidak yakin, semua peserta memiliki kelebihan masing-masing. Jika dibandingkan denganku tentu saja aku akan kalah.”
“Oppa harus optimis, harus yakin. Jangan pesimis seprti itu. Bagaimana kalau kita taruhan? Oppa harus menuruti apa saja yang aku inginkan kalau oppa kalah. Bagaimana?”
“Baiklah.”
Minho oppa lalu memegang tanganku saat berjalan ke arah depan panggung. Ah, kenapa bayangan Taemin oppa tiba-tiba muncul. Saat Taemin oppa selalu memegang erat tanganku dan tidak pernah melepasnya saat kami bersama. Aku benar-benar merindukan Taemin oppa.
Aku dan Minho oppa sampai di depan panggung dan pengumuman pemenang pun mulai dibacakan. Pemenang ketiga diraih oleh Minho oppa, pemenang kedua diraih oleh Taecyeon oppa dan juara pertama diraih oleh……..Yoseob oppa, “Asik Minho oppa kalah. Aku akan memintanya menemaniku ke Jeju Island. Pasti akan seru,” tawaku dalam hati

***

Dering hapeku berbunyi, tanda ada SMS masuk. Ternyata dari Minho oppa. Aku dan dia sempat bertukar nomor hape sehabis acara selesai.

From: Minho oppa
To: Suzy

Aku kalah
Apa yang harus kuturuti? T.T

From: Suzy
To: Minho oppa

Aku mau kau menemaniku ke Jeju Island. Bagaimana oppa? 🙂

From: Minho oppa
To: Suzy

Jinjja?

From: Suzy
To: Minho oppa

Ne. Apa oppa tidak bisa mengabulkannya? Aku benci padamu. Kau berbohong 😦

From: Minho oppa
To: Suzy

Haha kau cepat sekali marah Suzy. Kapan kau ingin kesana?

From: Suzy
To: Minho oppa

Besok oppa. Setuju?

From: Minho oppa
To: Suzy

Ne. Sekarang sudah malam. Istirahatlah. Jangan lupa sikat gigi, cuci kaki trus minum air putih ya 🙂

From: Suzy
To: Minho oppa

Oppa sudah seperti Ommaku saja haha
Gomawo oppa. Selamat malam. Mimpikan aku ya oppa :p

From: Minho oppa
To: Suzy

Pasti. Mimpikan aku juga ya Suzy :p
Selamat malam

Aku tersenyum melihat SMS terakhir dari Minho oppa. Aku lalu menutup aplikasi SMS dan mulai memasangkan headset ke telingaku. Aku mendengarkan lagu baru milik Miss A yang berjudul Love Alone.
“I don’t wanna be in love alone……”

***

Hari ini akan jadi hari yang spesial pastinya. Aku dan Minho oppa akan berjalan-jalan ke Jeju Island.
“Apa kau sudah siap, Suzy?” tanya Minho oppa mengagetkanku.
“Oppa kau mengagetkanku saja.”
“Maafkan aku Suzy,” kata Minho oppa lalu memeletkan lidahnya. “Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang.”
“Ne oppa. Omma, Appa, aku berangkat dulu ya,” pamitku pada kedua orang tuaku.
“Hati-hati di jalan ya,” seru Omma padaku lalu Omma menatap Minho oppa. “Minho-ssi, jaga putriku baik-baik ya,” titip Omma pada Minho oppa.
“Ne,” jawab Minho oppa sambil mengacungkan jempolnya. Aku dan Minho oppa pun berangkat menuju Jeju Island.

***

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam. Akhirnya kami sampai juga. Kami memilih untuk sarapan terlebih dahulu di sebuah warung kecil.
“Oppa, aku mau mi ramen ya.”
“Iya, pesan saja. Aku juga mau itu.”
Aku pun mulai memanggil pelayan dan memesan makananan serta minuman. Selang 15 menit, makanan dan minuman pun datang. Kami pun memakan dengan lahap.
“Suzy, bukankah itu Wooyoung?” tanya Minho oppa sambil menunjuk segerombolan namja yang berada di pojok warung kecil ini.
“Ah iya. Kebetulan sekali,” jawabku. “Bagaimana kalau kita gabung dengan mereka ?”
“Tentu saja,” sahut Minho oppa.
Kami pun berjalan menuju tempat Wooyoung oppa dan teman-temannya.
“Annyeonghaseyo Wooyoung oppa,” sapaku lalu tersenyum manis ke arahnya.
“Annyeonghaseyo. Wue? Suzy?”
“Iya oppa, aku Suzy. Oppa kaget ya? Aku kesini dengan Minho oppa.”
“Annyeonghaseyo Wooyoung,” sapa Minho oppa.
“Annyeonghaseyo Minho. Bagaimana kalian bisa ada disini? Apakah kalian sedang kencan? Ah tak kusangka secepat ini,” kata Wooyoung oppa.
“Tidak oppa, kami hanya jalan-jalan disini.
Astaga pipiku memerah. Aku malu setengah mati. Awas saja Wooyoung oppa, tunggu pembalasanku.
“Ya sudah, duduk saja disini.”
“Ne.” jawabku dan Minho oppa berbarengan. Aku duduk di sebelah seorang namja yang sangat tampan.
“Hei, mengapa kau melihatiku seperti itu,” tiba-tiba namja itu menanyaiku.
“Maaf, kau tampan sih,” kataku polos. Namja itu tertawa lalu yang lainnya juga ikut tertawa. “Yah kalian kenapa? Aku kan hanya bercanda.”
“Hahahaha kau lucu sekali. Oh iya perkenalkan, Choi Minhwan imnida.
“Oh ya aku lucu? Gomawo,” kataku terkekeh. “Bae Sueji imnida. Kalian bisa memanggilku Suzy, senang berkenalan dengan kalian. Oh ya Wooyoung oppa, mana Dara onnie?”
“Dia sedang sibuk, sayang sekali dia tidak bisa datang,” jawab Wooyoung oppa.
Aku lalu merasa ada sesuatu yang aneh. Ada yang daritadi memperhatikanku. Ya, namja di depanku. Orang itu tampak serius melihatku. Aku pun mengalihkan pandanganku.
“Oh ya, aku belum mengenalkan teman-temanku yang tergabung dalam satu band bernama FT Island. Yang di pinggir sebelah kanan itu Jonghun, dia pintar bermain gitar. Di sebelah kananku ada Hongki, dia pintar bernyayi dan suka melucu.”
“Ah kau ini, biasa saja lah,” timpal Hongki oppa lalu tersenyum malu-malu.
“Lalu yang di pinggir sebelah kiri itu Seunghyun, dia juga sangat pintar bernyanyi dan bermain gitar,” lanjut Wooyoung oppa.
“Ya, aku tau dia, aku pernah melihatnya tampil di event kampus,” seru Minho oppa.
“Ya benar sekali. Aku juga pernah melihatmu Minho,” kata Seunghyun oppa.
“Dan yang terakhir, di samping kiriku namanya Jaejin.”
“Annyeonghaseyo,” sapa Jaejin oppa. Oh ini toh namja yang daritadi melihatku. Orangnya tinggi dan badannya tegap. Kulitnya juga sangat putih. Rambutnya blonde.
“Annyeonghaseyo,” jawabku dan Minho oppa berbarengan.
“Wooyoung oppa, aku dan Minho oppa harus pergi sekarang.”
“Iya Wooyoung, aku rasa kalau pergi terlalu siang nanti akan panas,” Minho oppa menambahi.
“Oke. Have a nice day ya,” ujar Wooyoung oppa.
“Ne. Kami permisi dulu semuanya.”
Aku dan Minho oppa pun akan memulai perjalanan yang sebenarnya.

***

Aku dan Minho oppa berhenti di tempat yang sangat indah. Bunga berwarna kuning terhampar luas disana.
Kami pun banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang masa lalu kami. Saat ini aku merasa sangat dekat Minho oppa. Aku seperti telah mengenalnya bertahun-tahun. Dia memiliki dongsaeng namja bernama Jeongmin yang ternyata seumuran denganku. Tiba-tiba ada SMS masuk.

From: ……
To: Suzy

Annyeonghaseyo Suzy 🙂

From: Suzy
To: ……..

Annyeonghaseyo
Maaf, ini siapa ya?

From: …..
To: Suzy

Jaejin imnida. Kau mengingatku kan?

Ah iya aku ingat. Dia namja yang daritadi melihatku. Pasti dia tau nomorku dari Wooyoung oppa, gumamku. Aku lalu menyimpan nomornya.

From: Suzy
To: Jaejin oppa

Ada apa oppa?

From: Jaejin oppa
To: Suzy

Kau sedang apa Suzy? Kau dimana?

From:Suzy
To: Jaejin oppa

Aku sedang bersama dengan Minho oppa di taman bunga.

Setelah itu Jaejin oppa tidak membalasnya. Aku pun juga tidak terlalu memikirkannya.

***

Minho’s POV

“SMS dari siapa?” tanyaku.
“Jaejin oppa, temennya Wooyoung oppa tadi,” jawabnya.
“Oh……,” setelah itu aku dan Suzy malah sibuk sendiri. Aku lalu berinisiatif untuk mengajaknya mengobrol kembali.
“Hmm Suzy, coba kau berdiri disana. Aku akan memotretmu.”
“Asik. Oke oppa. Mulai ya.”
Aku pun mulai memotret berbagai pose dirinya. Suzy benar-benar cantik. Aku benar-benar beruntung bisa mengenalnya dan tentu saja dekta dengannya.
“Selesai.”
“Yah, kenapa cuma sedikit oppa?”
“Kau sedang terlihat jelek Suzy-ah.”
“Yah oppa, kau sedang ingin cari masalah denganku hah?”
Suzy lalu mulai mengejarku yang tentu saja berlari dengan sangat cepat untuk menghindarinya. Suzy tidak menyadari bahwa sebelumnya aku sudah banyak memotretnya.

***

Hari sudah larut malam, aku lalu mengantarkan Suzy pulang ke rumahnya.
“Gomawo oppa. Aku senang hari ini. Apa kau juga senang?” tanyanya tersenyum manis padaku.
“Pastinya. Salam untuk orangtuamu ya.”
“Ne oppa. Hati-hati di jalan.”
“Ne.”
Aku lalu berbalik menuju mobilnya namun tiba-tiba aku berbalik lagu ke arah Suzy dan perlahan mencium keningnya lembut.
“Selamat malam Suzy. Tidur yang nyenyak. Mimpi indah.”
“Ne oppa.”
Suzy-ah, apa kau tahu? Aku rasa aku benar-benar jatuh cinta padamu.

***

Suzy’s POV

Hari ini aku libur sekolah jadi aku bebas hari ini. Aku memutuskan untuk pergi ke toko buku.
“Annyeonghaseyo Suzy,” seseorang menepuk pundakku dari arah belakang.
Aku pun menoleh ke belakang dan ternyata berdiriliah Jaejin oppa sambil tersenyum manis padaku.
“Annyeonghaseyo Jaejin oppa,” sapaku tersenyum.
“Kau sedang mencari buku apa?”
“Aku mencari novel. Sudah lama sekali aku tidak membacanya. Oppa sendiri bagaimana?”
“Aku mencari buku tentang politik. Namun buku yang aku cari tidak ada.”
“Wah oppa, aku mana pernah membaca buku seperti itu.”
“Oh ya? Aku suka membacanya. Menarik.”
“Oppa pintar, tidak sepertiku. Aku kan babo,”kataku terkekeh.
“Haha kau ini lucu ya,” Jaejin oppa mengetok kepalaku dengan telapak tangannya.
“Oppa, aku ingin mencari novel di pojok sana. Apa kau mau ikut?”
“Ne.”
Aku pun mencari-cari novel yang aku cari dan untungnya ketemu. Aku lalu menghampiri Jaejin oppa yang berdiri tidak jauh dariku.
“Bagaimana, kau sudah menemukannya?”
“Ne. Ayo kita ke kasir oppa.”
Setelah membayar novelnya, aku dan Jaejin oppa mampir di Restoran Kimchi.
“Suzy,” panggil Jaeji oppa.
“Ada apa oppa?”
“Apakah kau mau pergi nanti malam denganku?”
“Hah? Kemana oppa?”
“Aku mau manggung di cafe “Coffee Taste”.
“Wah dengan teman-teman oppa yang tadi? FT Island? Wah tentu saja aku mau oppa. SMS saja jika kau ingin menjemputku.”

***

Prok..prok.. Semua orang bertepuk tangan. FT Island, band Jaejin oppa menampilkan perform yang sangat bagus.
“Oppa, kau keren sekali.”
“Gomawo Suzy. Apa kau mau memesan makanan?”
“Aku ingin steak ayam. Oppa bagaimana?”
“Aku sama saja denganmu.”
“Oke.”
Aku pun memesan 2 steak ayam dan orange juice. Handphoneku berbunyi. Ada SMS masuk.

From: Minho oppa
To: Suzy

Kau dimana?

From: Suzy
To: Minho oppa

Aku sedang bersama Jaejin oppa dan teman bandnya, FT Island di Café Coffee Taste. Kenapa oppa? Apa oppa tidak berniat kesini?

From: Minho oppa
To: Suzy

Hmm tidak apa-apa Suzy. Wah maaf aku juga masih ada urusan jadi aku tidak bisa kesana. Have fun ya, salam untuk semua disana 🙂

From: Suzy
To: Minho oppa

Gomawo oppa, pasti akan aku sampaikan salamnya 🙂

***

Author’s POV

Di seberang sana. Yang Suzy tidak tahu. Minho sangat merasa cemburu dan sakit hati.

***

Suzy’s POV

“Suzy, apa kau menjadi yeojachinguku?” tanya Jaejin oppa tiba-tiba sesampainya di depan rumah.
“Wue? Oppa apa-apaan? Tidak lucu bercandanya.”
“Bercanda? Aku tidak bercanda.”
“Kita baru kenal oppa. Tidak mungkin kalau kau menyukaiku.”
“Aku benar-benar menyukaimu. Apa kau tidak memperhatikannya?”
“Oppa, maaf.”
“Kenapa? Apa kau tidak bisa? Kumohon Suzy,” pinta Jaejin oppa.
“Maaf oppa aku tidak bisa. Aku menyukai orang lain.”
Aku langsung turun dari mobil dan pamit sekenanya pada Jaejin oppa. Aku tidak menyangka ini terjadi.
Aku dengan cepat meng-SMS Minho oppa. Aku harus menceritakan hal ini kepadanya

From: Suzy
To: Minho oppa

Oppa, tadi Jaejin oppa ‘menembakku’

From: Minho oppa
To: Suzy

Wue? Apa kau serius? Lalu kau jawab apa ?

From: Suzy
To: Minho oppa

Aku tidak menyukainya oppa. Jadi aku tidak menerimanya. Aku menyukai orang lain 🙂

From: Minho oppa
To: Suzy

Siapa yang kau suka Suzy? Kenapa kau tidak bercerita padaku? Kau sekarang main rahasia-rahasiaan ya?

From: Suzy
To: Minho oppa

Kalau soal ini aku masih tidak bisa memberitahumu oppa. Maaf. Aku sudah ngantuk nih oppa. Besok saja kita lanjut SMS-annya ya?

From: Minho oppa
To: Suzy

Ne. Besok malam aku ingin bertemu denganmu di pantai. Apa kau bisa?

From: Suzy
To: Minho oppa

Oke. SMS aku saja besok oppa 🙂

From: Minho oppa
To: Suzy

Tenang saja. Selamat malam Suzy. Mimpi indah ya 🙂

“Andai saja kau tau orang yang aku suka itu kau, Minho oppa,” kataku lirih dalam hati.

***

Author’s POV

Sedangkan Minho di seberang sana berseru, “Syukurlah kau tidak menerimanya. Jika kau menerimanya aku bisa gila. Berarti aku masih ada kesempatan untuk memilikimu. Suzy-ah, apakah aku orang yang kau sukai itu?”

***

Suzy’s POV

Aku menunggu Minho oppa dan duduk di pasir pantai. Dia telat 15 menit dari janjinya. Tumben sekali. Selama ini jika janjian dengannya dia selalu tepat waktu.
“Dor,” tiba-tiba Minho oppa mengagetkanku.
“Yah oppa. Kenapa kau telat?”
“Maaf Suzy, tadi aku ada urusan mendadak.”
“Oke tidak apa-apa oppa,” kataku tersenyum.
“Oh ya, aku ada ini untukmu,” Minho oppa memberikanku setangkai mawar putih. Entah mengapa tiba-tiba aku mengingat Taemin oppa.
“Kau kenapa? Apa kau tidak suka?”
“Wah tidak, aku suka sekali. Gomawo oppa. Kenapa kau bisa tahu kalau mawar putih adalah bunga favoritku? Sejauh ini yang tahu kalau aku menyukai mawar putih hanya Taemin oppa. Jadi aku mendadak teringat lagi padanya,” kataku lirih.
“Maaf Suzy. Aku tidak bermaksud seperti itu,” Minho oppa tampak menyesal.
“Tidak apa-apa oppa. Sudah lupakan saja.”
“Oh ya Suzy, kau tunggu disini sebentar ya. Jangan kemana-mana. Oke?”
“Ne.”
Minho oppa mulai menulis sesuatu di pasir dengan sebatang kayu. Panjang sekali, pikirku. Apa yang dia buat?
“Suzy-ah,” panggil Minho oppa sambil berteriak.
“Ada apa oppa ?”
“Coba kau kesini. Cepat.”
Aku pun berlari menuju tempat itu lalu aku perlahan membaca dengan kaget apa yang Minho oppa tulis di pasir dengan huruf kapital.

SUZY, AKU INGIN KAU MENJADI YEOJACHINGUKU. MAUKAH KAU MENERIMAKU? AKU MENCINTAIMU.

Wue? Mimpi apalagi ini? Aku pun menepuk pipiku dan mencubitnya dan ternyata ini memang nyata, bukan mimpi belaka.
“Kau kenapa Suzy-ah?”
“Tidak oppa. Aku tidak apa-apa.”
“Apa kau kaget? Aku cemburu saat tau kalau kau ditembak oleh Jaejin. Apa kau tau aku sakit hati? Untung saja kau tidak menerimanya.”
“Oppa, apa yang kau bicarakan?”
“Aku bicara fakta, Suzy. Aku mencintaimu. Apakah kau menjadi yeojachinguku? Mungkin ini hal bodoh karena kau telah menyukai orang lain dan aku masih melakukan hal ini. Tapi aku ingin kau tau isi hatiku, apa yang selama ini aku rasakan padamu.”
“Oppa, apa kau tau siapa yang aku sukai? Itu kau oppa.”
Minho oppa memandangku kaget. Aku yakin dia shock dengan hal yang baru saja aku katakan. Yah, aku juga harus jujur soal ini tentunya.
“Jadi, apa kau menerimaku?”
“Iya oppa,” aku lalu tersenyu manis padanya. Hari ini aku senang sekali. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Minho oppa pun ternyata juga mencintaiku.
Samar-samar aku mendengar lagu Romantic. Dan seperti biasa, aku selalu menangis jika mendengar lagu ini. Minho oppa lalu menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Gomawo Suzy. Apa kau tau yang aku rasakan saat ini? Aku sangat bahagia. Belum pernah aku sebahagia ini Suzy. Aku janji aku akan selalu melindungimu, menjagamu, menyayangimu, dan mencintaimu sepenuh hatiku. Aku akan berusaha untuk tidak pernah mengecewakanmu dan menyakitimu. Jadi aku mohon, kau jangan lagi suka menangis seperti ini. Aku tau ini pasti berat untukmu tapi aku yakin kau bisa kuat menghadapi semuanya. Aku akan jadi yang terbaik untukmu Suzy-ah. Aku janji.”
Aku pun menghapus air mataku. Taemin oppa, tidak apa-apa kan kalau aku berpacaran dengan Minho oppa? Kau merestui hubunganku dengannya kan? Aku yakin dia yang terbaik untukku saat ini. Aku yakin sia bisa menjagaku sepertimu menjagaku dulu. Kau bahagia kan disana? Aku yakin disana kau sangat bahagia dan sedang tersenyum melihatku disini.
Aku janji bagaimanapun juga aku tidak akan pernah melupakanmu. Kau akan selalu ada di hatiku, Lee Taemin oppa. Air mataku pun tumpah, aku tidak bisa menahannya. Minho oppa lalu memelukku.
“Gomawo Minho oppa.”
Kembang api terlihat di langit yang gelap itu dan sangat indah. Kembang api itu berbentuk hati.
“Saranghaeyo Suzy. Ingat semua janjiku padamu ya,” Minho oppa menatapku tajam.
“Ne. Aku akan selalu mengingat janjimu oppa. Nado saranghae Minho oppa.”
Kehidupan baruku pun dimulai lagi. Semoga awal yang indah ini nantinya akan berakhir indah juga.

THE END

Advertisements

4 Comments

  1. putri said,

    June 19, 2011 at 10:39 am

    gomapseumnida eonni ku 😉 *bighug :*
    poster.a TOP BGD deh hhe
    wow ending.a so sweet banget eon, di tembak di pantai terus ada kembang api di udara yg berbentuk hati..hhm jdi pengen hhe

    sekali lagi gomapseumnida ya eon 😉

  2. Echa said,

    September 8, 2012 at 7:41 am

    Bagus banget chingu..aku suka minzy couple ><
    Ditunggu ff minzy yg lainnya ya *-*)9


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: