Teardrops In The Rain

Title: Teardrops In The Rain

Author: dwiananing

Length: Oneshot

Main Cast: Sooyoung SNSD & Kyuhyun Super Junior

Minor Cast: Key SHINee, Hyorin SISTAR

Genre: Angst, Romance, Friendship

Rating: G

Author’s POV

“Oppa, kau mau kemana?” tanya Sooyoung pada Kyuhyun.

“Aku mau ke rumah Key sebentar. Kau mau ikut Soo?”

“Hmm aniyo. Aku di rumah saja. Aku harus menjaga Omma yang sedang sakit,” kata Sooyoung tersenyum kecil, wajahnya terlihat pucat.

“Kau sepertinya juga sakit?” Kyuhyun memperhatikan wajah Sooyoung yang lain dari biasanya.

“Aniyo. Sudah kau pergi saja oppa.”

“Hmm oke. Jangan lupa jaga kesehatanmu juga ya Soo. Salam buat Omma ya, semoga cepat sembuh.”

“Ne.”

Kyuhyun pun berlari meninggalkan Sooyoung ke arah mobilnya yang terparkir rapi di depan pintu rumah Sooyoung. Kyuhyun perlahan masuk ke mobil dan mengemudikannya dengan sangat cepat. Aku menghela nafas panjang.

“Sampai kapan kau akan membohongiku oppa? Sampai kapan?” Sooyoung pun tak dapat menahan tangisnya.

***

Sooyoung’s POV

Flashback

Aku melihat Kyuhyun oppa dengan seorang yeoja. Ya yeoja itu memang sangat cantik. Jika dibandingkan denganku, tentu saja aku tidak ada apa-apanya.

“Oppa, apa aku terlihat cantik dengan bando ini?” tanya yeoja itu manja pada Kyuhyun oppa.

“Cantik. Apa kau mau itu?” Kyuhyun oppa menawarkan.

“Ne. Kalau tidak merepotkan oppa.”

“Aniyo. Kau hanya mau yang warna biru? Tidak mau memilih warna yang lain juga?”

“Aku mau warna hijau juga oppa.”

“Ya sudah, ayo ke kasir,” Kyuhyun oppa menggenggam erat tangan gadis itu.

Mereka tampak serasi. Aku tetap membuntuti mereka kemanapun mereka pergi dan setelah berjalan cukup jauh, mereka berhenti di sebuah cafe. Aku lalu dengan cepat mencari tempat duduk di dekat mereka. Untung saja aku membawa kacamata dan juga topi. Jadi kedokku tidak akan terbongkar. Aku lalu melihat mereka yang sedang mengobrol serius.

“Oppa, kenapa kau putus dengan Sooyoung onnie? Dia kan orangnya sangat baik,” tanya yeoja itu penasaran.

Jantungku berdebar kencang. Apa yang yeoja itu tanyakan? Aku? Putus? Aku dan Kyuhyun oppa belum putus. Bahkan sejauh ini hubungan kami baik-baik saja, yah walaupun akhir-akhir ini aku melihat gelagat aneh dari Kyuhyun oppa.

“Aku dan dia sudah tidak cocok lagi. Sudahlah lupakan hal itu. Berapa kali kau bertanya hal itu padaku? Aku kan sudah punya kau, Hyorin,” Kyuhyun oppa mencium kening yeoja itu.

“Gomawo oppa.”

Aku yang mendengar semuanya langsung pergi dari café itu dengan hati yang teramat sakit.

Flashback end

***

Andai saja kalau Kyuhyun oppa tahu, aku juga memang sedang sakit. Dan jika dibandingkan dengan Ommaku, penyakitnya tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan penyakitku. Omma hanya sakit kepala biasa sedangkan aku divonis mengidap penyakit Tumor Otak, penyakit yang dulu pernah diderita oleh Kakekku dan merenggut nyawanya 10 tahun lalu. Tentu saja ini penyakit yang sangat menyeramkan bagiku.

Aku tidak ingin menceritakan hal ini pada Kyuhyun oppa. Karena tentu saja aku takut kalau dia malah akan menjauhiku karena penyakit ini.

Makin hari penyakitku makin parah saja. Hari ini setelah tadi Kyuhyun oppa menemuiku, aku muntah darah, lagi dan lagi. Aku dengan cepat meminum semua obat yang diberikan oleh Dokter.

Setelah meminum obat, aku iseng menelepon Key untuk memastikan apa benar kalau Kyuhyun oppa ada di rumahnya.

“Yobosaeyo,” sapaku

“Yobosaeyo,” jawab Key.

“Key, apa Kyuhyun oppa sedang ada di rumahmu sekarang?”

“Hah? Kyuhyun hyung? Dia tidak ada disini noona. Aku bahkan baru saja datang dari latihan untuk comebackku,” jawabnya yang membuatku hanya bisa geleng kepala.

“Oh ya sudah, gomawo Key,” kataku lalu menutup teleponnya.

Benar sekali feelingku bahwa dia hari ini akan pergi dengan yeoja itu lagi. Yang aku tahu, ternyata yeoja itu adalah adik kelas Kyuhyun oppa saat SMA dulu dan mereka akhir-akhir ini memang sangat dekat.

***

Hari demi hari berlalu begitu saja. Hari ini aku cek-up ke Rumah Sakit karena kondisiku yang makin parah. Omma yang selama ini selalu mengantarkanku ke Rumah Sakit karena Appaku sedang bertugas di Indonesia. Appa sudah bekerja disana selama 2 tahun dan pulang hanya saat hari libur akhir tahun. Tentu saja Appa tahu penyakitku, Appa juga tahu hari ini aku akan ke Rumah Sakit dan Appa selalu mendoakan yang terbaik untukku dan berkata suatu hari aku akan bisa sembuh. Semoga saja Appa.

Setelah beberapa jam cek-up, Omma dan Dokter berbincang sejenak, aku tidak diperbolehkan untuk ikut ke dalam ruangan itu. Aku hanya menunggu di luar ruangan yang sangat sepi ini.

***

Sooyoung’s Omma POV

“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanyaku pada Dokter yang duduk di depanku.

“Keadaan Sooyoung makin buruk saja. Apa dia sedang ada masalah dan sering memikirkan masalah itu? Aku mohon ingatkan padanya, jangan terlalu suka memikirkan banyak hal yang akan membuatnya tambah sakit. Aku bisa melihat dari sorot matanya, terlihat adanya tekanan batin di dalam dirinya,” kata Dokter.

“Dia memang sedang ada masalah dengan namjachingunya. Namjachingunya sepertinya sedang selingkuh. Tentu saja dia memikirkan hal itu terus. Aku sudah mengingatkannya tapi tetap saja Sooyoung seperti itu. Akhir-akhir ini namjachingunya juga tidak pernah menghubunginya, bahkan menemuinya pun tidak. Setiap malam dia selalu menangis, aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya,” aku menangis di hadapan Dokter. Dokter itu lalu menenangkanku.

“Hidup Sooyoung tidak lama lagi, Bu. Aku mohon buatlah Sooyoung bahagia di sisa hidupnya. Tumor Otak yang dia derita sudah semakin ganas saja. Tumor itu sudah menggerogoti hampir sebagian dari tubuhnya. Lama-kelamaan anggota tubuhnya bisa saja lumpuh,” kata Dokter itu yang membuatku tangisanku makin keras.

“Dokter, tidak adakah harapan sembuh untuk Sooyoung? Aku mohon Dokter, dia anakku satu-satunya. Aku hanya punya dia. Anak yang sangat aku cintai,” aku memegang tangan Dokter itu, berharap bahwa jawaban “ada” adalah jawabannya.

“Maaf Bu, penyakit Sooyoung sudah sangat parah. Bahkan bukan saya saja, semua Dokter sudah turun tangan, namun tentu saja aku dan tim Dokter lainnya akan berusaha sebaik mungkin. Seminggu lagi operasi tahap awal akan dimulai, bagaimana Bu?” tanya Dokter memastikan.

“Baiklah, semua demi kesembuhan anakku,” kataku sambil menghapus air mata lalu bersalaman dengan Dokter itu, aku keluar ruangan dan melihat Sooyoung yang tertidur di kursi tunggu.

“Soo, ayo bangun. Omma sudah selesai berbicara dengan Dokter,” kataku sambil menepuk bahunya perlahan.

“Oh ne Omma, maaf aku tadi ketiduran. Aku capek sekali,” kata Sooyoung sambil mengucek-ngucek matanya. Aku melihat wajah cantiknya yang sangat pucat.

“Ya sudah tidak apa-apa. Apa kau lapar Soo? Bagaimana kalau kita makan sup ikan kesukaanmu dulu?” tanyaku sambil tersenyum kepadanya.

“Tentu saja aku mau Omma,” katanya sambil tertawa kecil, “Tumben Omma mau mentraktirku? Biasanya saat awal bulan saja kau akan mengajakku makan diluar.”

“Kali ini Omma dapat tambahan uang Soo, ayolah nanti keburu malam,” aku menarik tangan anak kesayanganku ini, aku mengenggam tangannya erat. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan dia.

***

“Soo, bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun?” tanyaku hati-hati. Raut wajahnya yang tadinya ceria mendadak murung. Aku jadi menyesal menanyakan hal ini padanya.

“Masih seperti kemarin-kemarin Omma. Kyuhyun oppa tidak pernah menghubungiku, terakhir dia menghubungiku seminggu yang lalu. Menemuiku pun yang terakhir saat dia berkunjung ke rumah. Aku tanya teman-temannya, kata mereka Kyuhyun oppa memang sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sudahlah Omma, nanti juga dia akan menghubungiku, atau bahkan menemuiku,” kata Sooyoung tersenyum getir. Aku ingin menangis melihatnya yang masih bisa bersabar dengan Kyuhyun, namja sialan yang berani-beraninya menyakiti hati anakku.

“Kenapa kau tidak menghubunginya langsung Soo? Kenapa mesti lewat teman-temannya?” tanyaku lagi.

“Handphonenya tidak bisa dihubungi Omma. Teman-temannya juga tidak tahu mengapa, mungkin handphone Kyuhyun oppa sedang rusak, jadi otomatis dia juga tidak bisa menghubungiku,” lagi-lagi aku melihat Sooyoung tersenyum getir.

“Dan soal yeoja selingkuhannya, sampai kapan kau akan tahan Soo?”

“Omma. Kumohon jangan bahas itu. Yeoja itu memang dekat dengan Kyuhyun oppa, tapi hanya sebatas sahabat. Mengertilah Omma,” katanya sambil menunduk.

“Soo, jangan bohongi dirimu seperti itu. Ada hubungan khusus kan Kyuhyun dengan yeoja itu? Sudahlah, putuskan saja dia. Masih banyak namja yang jauh lebih baik dari dia Soo, yang lebih menyayangimu dan tak akan menyia-nyiakan kau seperti ini. Apa kau tahu apa yang Omma rasakan? Hati Omma sakit, melihatmu yang sudah sakit seperti ini, kau juga harus berurusan dengan namja yang kurang ajar seperti Kyuhyun. Umurmu tidak lama lagi Soo, Omma tidak ingin kau pergi dari dunia ini,” kataku yang sudah tidak dapat menahan tangisku.

Aku melihat Sooyoung yang menatapku bingung. Aku rasa aku sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak aku ungkapkan padanya.

“Apa kata Omma tadi? Umurku tidak akan lama lagi? Apa aku tidak akan sembuh? Jawab Omma, jawab aku,” Sooyoung menguncang-guncangku tubuhku. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Soo, aku sepertinya memang harus mengatakan hal ini padamu. Kata Dokter tadi, umurmu tidak akan lama lagi. Maka dari itu aku ingin kau menghabiskan sisa hidupmu dengan berbagai hal yang membuatmu bahagia, bukan tertekan seperti ini Soo, Omma mohon lupakan namja sialan itu. Omma mohon,” aku lalu memeluknya erat. Sooyoung menangis sangat kencang di pelukanku. Semua orang yang ada di kedai sup ini sudah memperhatikan kami namun aku tidak peduli.

***

Sooyoung’s POV

Aku sudah sampai di rumah dan masih memikirkan kata-kata Omma tadi yang membuatku menangis sangat kencang.

Umurmu tidak lama lagi Soo, Omma tidak ingin kau pergi dari dunia ini.

Umurku. Tidak. Akan. Lama. Lagi.

Ya, 5 kata itu membuatku benar-benar tidak bisa tidur. Aku memang merasa penyakitku ini makin parah. Tiada hari tanpa sakit kepala yang kuderita, tiada hari tanpa muntah darah yang aku keluarkan. Namun dari hati kecilku aku masih berharap kalau aku bisa sembuh. Aku bisa menjalani hidup normal seperti remaja lainnya.

Dan Kyuhyun oppa, ternyata tidak menghubungiku juga malam ini. Aku berinisiatif untuk menghubunginya dan ternyata handphone aktif, aku masih menunggu nada sambung dan teleponku pun diangkatnya, namun yang kudengar kali ini adalah suara seorang yeoja.

“Yobosaeyo,” sapa yeoja itu.

“Yobosaeyo,” jawabku.

“Hmm nugu?” tanyanya.

“Aku yeojachingu Kyuhyun oppa,” jawabku mantap.

“Eh maaf? Apa aku tak salah dengar? Aku ini yeojachingunya tahu. Dasar yeoja tidak tahu diri. Oppa, ini ada yang menelepon, dia berkata bahwa dia yeojachingumu,” kata yeoja itu berteriak. Namun sebelum Kyuhyun oppa menjawab teleponku. Aku dengan cepat memutuskan sambungan telepon itu. Aku rasa apa yang dikatakan Ommaku benar adanya, aku harus memutuskan Kyuhyun oppa secepatnya.

***

Seminggu berlalu, entah mengapa aku masih susah untuk memutuskan Kyuhyun oppa. Aku terlalu mencintainya. Lagipula aku dan dia sudah berpacaran 4 tahun lamanya. Aku bisa mengerti mungkin ada rasa bosan yang melanda dirinya, namun mengapa selama ini pelampiasannya?

Aku dan Ommaku menyiapkan segala yang aku butuhkan nanti di rumah sakit. Ya hari ini operasiku akan dilakukan. Untuk mengangkat tumor di otakku tentunya. Aku juga sudah tahu tentang para Dokter yang sudah banyak turun tangan menanganiku. Namun aku tidak menyerah, semangatku untuk tetap hidup sangat besar.

Aku mengecek handphoneku, Kyuhyun oppa sama sekali tidak menghubungiku semenjak kejadian minggu lalu untuk sekadar minta maaf saja. Aku lalu bergegas berangkat ke Rumah Sakit bersama Ommaku. Appaku juga akan datang hari ini, tentu saja aku sangat senang. Keluargaku akan menemaniku di hari yang menyeramkan ini.

Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung menuju ruang UGD, aku mengganti pakaianku tentu saja, aku lalu berbaring di tempat tidur yang sebenarnya sangat nyaman itu, namun bisa saja akan menjadi tempat terakhirku nanti. Selang mulai terpasang dimana-mana. Aku pun mendapatkan suntikan bius agar aku tidak akan merasa sakit nantinya. Bius total. Dimana selama itu aku seperti orang mati.

Operasi berjalan lancar dan memakan waktu 12 jam. Waktu yang sangat lama bukan. Dan syukurlah, aku masih hidup. Walaupun aku masih bisa merasakan sakit yang amat sangat. Aku memilih beristirahat sejenak.

***

Aku terbangun di tengah malam. Kepalaku terasa sakit lagi. Lebih sakit dari yang sebelumnya. Ada apa sebenarnya? Bukankah operasiku lancar? Bukankah aku sudah sembuh?

Aku melepas infusku secara paksa. Sakit pasti namun aku tidak peduli. Aku lalu bangun dari tempat tidur. Omma dan Appa ternyata sedang tidur. Aku merasa beruntung karena tentu saja aku ingin pergi sebentar dari tempat ini, ya hanya sebentar saja. Entah mengapa saat ini juga, detik ini juga, aku ingin bertemu dengan Kyuhyun oppa. Aku merasa ada yang aneh pada diriku. Aku rasa umurku memang tidak akan lama lagi.

Aku bergegas berganti baju, tentu saja aku tidak bisa keluar dengan baju pasien seperti yang tadi aku pakai. Bisa ketahuan nanti oleh satpam yang menjaga.
Aku sama sekali tidak memakai jaket. Ya aku hanya memakai pakaian seadanya, t-shirt dan juga celana panjang. Aku memakai bedak dan lipbalm agar tidak kentara sekali mukaku yang pucat ini. Selanjutnya aku pelan-pelan membuka pintu dan berjalan pelan di lorong rumah sakit. Akhirnya aku sampai di gerbang Rumah Sakit dan ternyata sang satpam sedang tidak ada. Sekali lagi, aku merasa beruntung. Aku cepat-cepat lari darisana.

Ditengah jalan, aku merasa kepalaku sakit lagi. Aku berjalan terseok sambil memegangi kepalaku. Aku pukul-pukul kepalaku karena tak tahan dengan sakitnya.

Sial, hujan turus dengan sangat deras. Tidak ada tempat berteduh di dekat sini. Aku hanya bisa berdiam diri dibawah pohon yang pastinya tidak bisa benar-benar melindungi diriku. Tubuhku menggigil. Aku juga sendirian sendiri. Aku takut

***

Kyuhyun’s POV

“Annyeonghaseyo hyung,” sapa Key.

“Annyeonghaseyo. Ayo masuk, kenapa hujan-hujan begini kau kesini?” tanyaku bingung.

“Apa hyung tidak tahu soal Sooyoung noona?”

“Sooyoung? Dia baik-baik saja kan?” tanyaku. Tapi aku merasa bahwa ada hal yang buruk sudah terjadi.

“Sooyoung noona hari ini operasi Tumor Otak hyung. Aku tadi sudah mengunjunginya. Tapi kenapa hyung sama sekali tidak datang?”

Aku tertohok. Sooyoung punya penyakit Tumor Otak? Kenapa aku bisa tidak tahu hal sepenting ini? Betapa bodohnya aku. Aku memang namja bodoh.

“Aku… ,”

“Kenapa tidak menjawab hyung? Apa hyung selama ini masih berhubungan dengan Hyorin? Jadi selama ini hyung tidak pernah memperhatikan Sooyoung noona? Hyung selingkuh dari Sooyoung noona? Sebenarnya hyung manusia apa bukan?” aku melihat raut wajah Key yang tampak emosi. Dia mendekat padaku dan sebuah pukulan mendarat di pipiku. Pukulan itu terlalu keras bagiku. Rasanya sangat sakit.

“Maafkan aku,” kataku pelan sambil masih menahan sakit.

“Kenapa kau minta maaf padaku hyung? Harusnya hyung minta maaf pada Sooyoung noona. Sooyoung noona itu yeoja yang sangat baik. Dia juga pintar. Kenapa kau menyia-nyiakannya hyung? Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku akan menjaganya hyung. Tidak akan kubiarkan Sooyoung noona berpacaran dengan namja bajingan sepertimu,” kata Key menatapku tajam. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Baru pertama kali aku melihat Key menangis seperti ini.

“Kau… menyukai Sooyoung?” tanyaku dengan tatapan tidak percaya.

“Ne. Aku menyukainya hyung. Bahkan mencintainya. Aku menahan diri selama ini karena aku masih memandangmu hyung. Tapi hyung malah seperti ini. Aku menyesal. Apa hyung tahu? Sooyoung noona sudah mengidap penyakit ini dari kecil. Apa kau benar-benar tidak pernah memperhatikannya? Aku tahu dia tidak akan menceritakan hal ini pada hyung karena Sooyoung noona takut kau akan meninggalkannya. Dia sangat mencintaimu hyung. Dan soal Hyorin, hyung tahu kan kalau dia itu playgirl? Lihat saja, dia akan memutuskan hyung secepatnya. Mungkin malam ini. Selamat malam hyung, aku permisi dulu,” Key lalu pergi dari hadapanku. Aku masih tidak percaya dengan semua yang Key ceritakan padaku. Aku merasa sangat jahat pada Sooyoung.

Aku selingkuh, tentu saja karena aku bosan. 4 tahun berpcaran dengannya, ada rasa ingin memiliki yang lain dan aku menemukan Hyorin, yeoja cantik dan juga berbody sexy. Dia adik kelasku saat SMA dulu dan aku bertemu dengannya saat aku sedang berada di bar.

Namun memang akhir-akhir ini tingkahnya aneh. Jangan-jangan yang Key katakan akan benar terjadi. Ah Kyu pabo, kenapa kau masih sempat-sempatnya memikirkan Hyorin? Kenapa kau tidak memikirkan keadaan Sooyoung saat ini?
Aku lalu iseng membuka handphone dan melihat panggilan masuk dan alangkah kagetnya ternyata Sooyoung ada menghubungiku dan aku yakin kalau tadi yang mengangkat adalah Hyorin. Ah kenapa yeoja itu tidak menceritakan padaku? Aku lalu membuka SMS, ada 1 pesan yang belum terbuka, dan itu pesan tadi pagi, aku membukanya perlahan.

From: Sooyoungie
To: Kyuhyun oppa~

Oppa, maaf sebelumnya aku tidak pernah menceritakan tentang hal ini. Aku sudah mengidap penyakit Tumor Otak, sejak aku kecil. Ini penyakit turunan dari Kakekku. Aku takut jika aku menceritakan hal ini padamu, kau akan menjauhiku dan memutuskankku. Aku tidak mau oppa. Aku terlalu mencintaimu.

Aku akan menjalankan operasi pengangkatan Tumor hari ini. Aku harap oppa mau datang ya. Aku ada di KyuYoung hospital. Aku akan sangat senang jika kau datang. Oppa, saranghae :*

Tanpa terasa air mataku sudah turun. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memukul tembok degan tanganku. Aku lalu dengan cepat mengambil jaketku dan berlari ke arah Rumah Sakit yang tidak begitu jauh dari rumahku. Aku terlalu bodoh untuk menyadari semua ini.

Aku tetap berlari dengan kencang walaupun hujan turun dengan derasnya. Air mataku sudah menyatu dengan air hujan. Aku berhenti berlari saat aku melihat seorang yeoja sedang terduduk di bawah pohon, sepertinya dia sedang berteduh. Aku menghampirinya dan betapa kagetnya aku karena yeoja itu adalah Sooyoung dan dia terlihat kedinginan, badannya menggigil. Wajahnya pucat, sangat pucat.

“Soo?” panggilku.

“Oppa? Kyuhyun oppa?”

“Ne. Kau sedang apa disini Soo?” tanyaku bingung.

“Aku maunya mencarimu oppa. Aku….,”

“Kenapa Soo?”

“Aku benci padamu oppa. Aku benci. Aku ingin putus darimu. Aku sudah tidak tahan dengan apa yang sudah kau lakukan akhir-akhir ini padaku. Apa kau tidak memikirkan diriku sama sekali? Aku lemah oppa, aku tidak bisa bebas seperti yeoja lain. Aku memang tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan yang Hyorin. Aku ingin putus oppa,” Sooyoung memukul diriku. Aku diam saja. Aku tahu kesalahanku sudah sangat fatal.

“Maafkan aku Soo,” aku tertunduk.

“Kenapa kau gampang sekali berkata maaf oppa? Kenapa?” lagi-lagi Sooyoung memukulku. Dia juga menangis dan tangisan itu bercampur air hujan. Seperti diriku. Aku lalu melepas jaketku dan memasangkan pada tubuhnya yang menggigil hebat itu.

“Sejak kapan kau disini?”

“Baru saja oppa,” katanya pelan. Aku lalu memeluk dirinya. Hujan turun sangat deras. Seolah mengerti tentang apa yang sedang terjadi padaku dan Sooyoung.

“Oppa, apa kau bisa mengantarku ke Rumah Sakit? Badanku sakit semua. Kepalaku sakit sekali oppa,” katanya. Saat dia ingin berdiri, kakinya terlalu lemah. Aku lalu menggendongnya di belakang. Dia bersandar di badanku. Aku bisa merasa tubuhnya yang sangat lemah dan juga dingin. Aku berlari dengan cepat agar Sooyoung bisa cepat sampai di Rumah Sakit.

Sesampainya di Rumah Sakit aku langsung membawanya ke kamar dan langsung menidurkannya. Aku melihat Omma dan Appa Sooyoung yang terlihat sangat panik.

“Anak sialan, kau bawa kemana anakku? Kenapa dia basah kuyup seperti itu?” tanya Omma Sooyoung yang menatapku dengan tatapan seperti ingin membunuhku.

“Tadi aku bertemu dengannya di jalan,” kataku pelan.

“Apa katamu? Sekarang kau cepat pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin melihatmu lagi,” kata Omma Sooyoung lagi. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku langsung keluar dari kamar Sooyoung.

Aku memilih duduk diluar dan tiba-tiba saja hapeku bergetar. Ada SMS dari Hyorin. Ah kenapa yeoja ini muncul di saat yang sangat tidak tepat?

From: Hyorin
To: Kyuhyun oppa

Oppa, aku sudah bosan denganmu. Kita putus saja ya :p

Aku membaca kedua kalimat itu dengan nada terbelalak. Kenapa kata-kata Key tadi benar adanya? Namun tentu saja aku bersyukur karena aku akhirnya bisa putus dengannya. Aku tidak kaget lagi. Lagian aku selama ini dengannya hanya mencari kesenangan sesaat. Yah kesenangan sesaat yang akhirnya membuatku sengsara seumur hidupku. Aku merasa kalau karma berlaku saat ini padaku.

Aku memasukkan hapeku dan tiba-tiba keadaan menjadi genting. Aku melihat Dokter cepat-cepat masuk ke dalam kamar Sooyoung dan Suster-Suster yang tentunya juga panik. Aku memanggil salah satu suster.

“Suster, apa yang terjadi?”

“Sooyoung-ssi tidak sadarkan diri,” katanya lalu bergegas masuk ke dalam kamar Sooyoung.

Aku mohon, Sooyoung akan baik-baik saja. Aku akan menjaganya seperti dulu. Mungkin kalian kira aku tidak mencintai Sooyoung, namun itu sama sekali tidak benar. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Yah, kebosanan yang melanda diriku membuatku buta akan segalanya. Dan aku mohon Tuhan, berikan aku satu kesempatan lagi, untuk menebus kesalahanku padanya. Tapi sepertinya semua tidak berjalan seperti rencana karena aku selanjutnya mendengar teriakan keras dari Omma dan Appa Sooyoung.

“Sooyoung. Bangun nak, bangun. Kenapa kau secepat ini meninggalkan Omma dan Appa? Kau anak kesayangan kami. Anak satu-satunya. Kenapa kau pergi Soo?” aku bisa mendengar dengan jelas setiap kata-kata dari Omma Sooyoung.

Aku berjalan ke kamar Sooyoung dengan linglung. Pikiranku sangat kacau. Saat aku masuk ke kamarnya. Aku melihat tubuh Sooyoung sudah ditutupi dengan selimut putih. Aku menangis sejadinya dan berteriak kencang.

“Sooyoung. Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku.”

***

Hari ini hari pemakaman Sooyoung. Aku melihat banyak sahabat dan juga teman-temannya datang. Aku juga melihat Key yang sedang berjalan ke arahku.

“Bagaimana hyung? Inikan keinginanmu?” tanyanya sinis.

“Key, aku tahu aku salah tapi tentu saja ini bukan keinginanku. Aku tahu kalau selama ini aku bodoh karena menyia-nyiakannya. Bahkan aku tidak bisa membuatnya bahagia di sisa hidupnya,” kataku.

“Penyesalan memang selalu datang belakangan hyung. Saat kita kehilangan orang itu, baru kita akan merasa menyesal,” kata-kata Key tadi sangat menohok diriku. Tentu saja ini yang sedang aku alami.

“Padahal jika Sooyoung noona sembuh, aku akan mengungkapkan perasaanku hyung. Aku akan melindunginya, menjaganya dan mencintainya sepenuh hati. Tidak sepertimu,” katanya. Aku hanya bisa menelan ludah, “Oh ya, ini ada surat dari Sooyoung noona. Surat ini dibuatnya dulu, saat 2nd anniversary hyung dan Sooyoung noona dulu. Maaf aku menyimpannya sekian lama. Sebenarnya dia menitipkan ini untuk diberikan untukmu hyung, tapi aku terlalu cemburu dan lebih memilih untuk menyimpannya. Tapi tentu saja tidak mungkin aku simpan terus,” katanya lalu menyerahkan amplop biru, warna kesukaanku yang sudah lecek itu. Dia lalu pergi meninggalkanku sendirian di bukit ini. Aku membuka perlahan surat itu dan membaca isinya.

Oppa, tidak terasa aku dan kau sudah 2 tahun. Ini rekor pacaran terlamaku loh oppa. Semoga bisa terus sampai 3 tahun dan juga 4 tahun, hmmm dan seterusnya deh.

Yang pasti aku sangat beruntung memilikimu oppa. Kau itu sosok namja idamanku. Semua ada di dirimu. Dan yang paling penting kita seiman oppa, dan juga oppa orang yang setia. Aku kadang sedih melihat teman-temanku yang di selingkuhi namjachingunya. Dan untungnya kau tidak seperti namjachingu mereka yang jahat itu oppa. Kau janji tidak akan selingkuh kan oppa? Aku tahu itu, kau kan sangat mencintaiku hehe :p

Hmm oppa juga beruntung memilikiku bukan? Tenang saja aku tidak akan selingkuh oppa. Aku terlalu mencintaimu hehe

Sekali lagi, happy 2nd anniversary oppa, saranghae :*

Aku menangis lagi, ya aku merasa bahwa aku sebenarnya yang harus pergi dari dunia ini, bukan Sooyoung. Sooyoung masih berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Aku yang harusnya menderita, bukan dia. Aku lalu meremas surat itu dan berjalan tidak tentu arah. Aku lalu berjalan perlahan di trotoar, aku hendak menyebrang namun saat ingin menyebrang, aku melihat sinar terang yang menyorot wajahku.

Aku lalu merasa badanku sangat ringan. Aku melihat orang mengerumuni diriku. Apa yang sebenarnya terjadi? Yang pasti setelah itu, pandanganku kabur dan lama-lama menjadi gelap. Sepertinya aku menyusul Sooyoung. Wah terjadi sangat cepat. Aku ingin segera meminta maaf padanya. Namun, apakah bisa? Aku rasa aku akan masuk neraka dan Sooyoung masuk surga. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.

THE END

Advertisements

5 Comments

  1. June 12, 2011 at 6:34 pm

    kerend ceritanya bikin saeng nangis *tp nggak mengeluarkan air mata lo*sarap
    kyuppa , sumpah benci banget ama dia sekarang
    sooyoung eonni , maaf kanlah kyu oppa yang babbo ini *dijitak kyuppa

    lanjut eonni 🙂

  2. niasty93 said,

    June 18, 2011 at 12:17 pm

    wah onnie ffnya kren bkin 😥 kyu jahat amet sih jadi sebel! Tp ad lucunya jg^^ kyu nyadar jg kalau dy bkalan msuk neraka 😀 Dsr evil!

  3. ab22 said,

    May 2, 2012 at 10:56 pm

    Waduh si kyu bnr bnr T_T
    Ceritanya sad ending
    Eonnie jgn pergi gmn nasib knight ?
    ╯︿╰


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: